Aku mengenal gadis cantik. Seorang anak belia yang mungkin baru saja mengenal cinta. Wajahnya oval,lugu tapi manja. Matanya tak terlalu besar, mirip kelinci tetangga yang kadang seenaknya saja makan rumput di halamanku. Dia pintar, tapi tak terlalu pandai bicara. Hebat, terkadang dia juga bisa membuatku tertawa.
Aku bertemu dengannya 2 bulan yang lalu, tepat saat hari kartini, yang katanya hari emansipasi wanita di Indonesia itu. Dia memakai kebaya, coklat sawo matang dengan detail-detail rumit dan sekuntum mawar putih di dadanya, membuatnya tampak anggun,cantik atau lebih tepatnya "charming" di festival jalanan itu.
Tatapku terhanyut, apalagi ketika dia memanggilku, iya..dia memanggil namaku. Mungkin dia mengenalku, namun jujur saja aku tak tahu siapa dia. Dengan gusar aku membalas senyumannya.Aah…senyuman yang mungkin tak dilihatnya, karena kereta kudanya berjalan terlalu cepat, menjauhiku. Seolah mengerti aku bukan pecinta binatang.
Delapan minggu telah berlalu, dia selalu ada ada di fikiranku. Minggu yang sama setiap minggu selalu kulewatkan bersamanya. Bejalan-jalan entah kemana, aku sendiripun terkadang lupa dan bingung menjelaskannya. Terkadang pula dia yang datang ke rumahku, membawakan ayam bakar, lalapan dan sambal kesukaanku, terkadang juga lontong sayur atau gado-gado dengan kombinasi kerupuk udang dan mlinjo buatanya sendiri. Semuanya selalu tersusun rapi di dalam 3 rantang hijau corak bunga-bunga.
Hidup ini nikmat, lezat dan asyik sejak kehadirannya. Padahal sering ku pertanyakan dari mana dia tahu namaku. Walaupun akhir-akhir ini tak lagi ku pedulikan.
Ahh…yang jelas, besok kita akan menikah. Orang tuanya sudah setuju. Ia pun sudah menganggukan kepala. Persetan dengan kata orang dia masih terlalu muda, atau aku yang sudah beristri tiga. Pernikahan adalah mulia, menghindarkan zina. Begitulah kata mereka yang pernah membaca.
Ku lihat tetes air matanya mengalir, saat para saksi mengucapkan …”Sah…”. Ia tahu telah menjadi milik ku saat itu juga. Kulihat matanya nanar, tapi bukan penyesalan. Mana mungkin menyesal kalau yang ku dengar darinya adalah cinta. Apalagi aku bukan hanya orang kaya biasa. Beberapa orang menganggapku bagai Dewa, rahmat bagi semua. Kelakpun terjamin hidupnya. Ku pastikan juga ia bahagia. Jadi jangan membanding-bandingkannya dengan orang lain. Dia adalah dia, bukan siti atau kartini, dia hanyalah seorang anak belia bernama rani, yaaa…Rani Puspitasari.
“catatan pendek Seorang Petualang Cinta…”
AdNoe ‘08